Merinding! Atraksi Debus & Pencak Silat Gemparkan Pernikahan di Lebak, Anak Muda Antusias

Lebak,- Matamedianews.co.id,- Suasana hajat pernikahan di Kabupaten Lebak, Banten, terasa berbeda pada akhir pekan lalu. Bukan hanya sekadar pesta dengan hiburan dangdut, panggung utama justru diubah menjadi arena pertunjukan seni bela diri tradisional yang memukau.

Atraksi Debus dan Pencak Silat berhasil membuat ratusan tamu undangan histeris, takjub, hingga merinding. Acara ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal Banten masih mampu menarik hati generasi muda jika dikemas dengan tepat.

Read More

Acara budaya ini digagas langsung oleh keluarga mempelai yang ingin menonjolkan identitas lokal dalam hajatan mereka. Tampil sebagai bintang utama adalah kolaborasi dari Empat kelompok seni bela diri terkemuka di Lebak:

* Debus Oleh Pendekar Banten

* Paguron Jalak Banten Nusantara (PJBN)

* Padepokan Maung Lugay

* Padepokan Pusaka Santri

Untuk menjamin keamanan selama atraksi ekstrem berlangsung, BP Edi Gondrong selaku Satgas PJBN Lebak turun tangan langsung memimpin jalannya pertunjukan.

Pertunjukan dibuka dengan aksi menegangkan dari Debus Oleh Pendekar Banten. Para pendekar mendemonstrasikan ilmu kekebalan tubuh dengan cara menusukkan benda tajam ke kulit, memukul diri menggunakan gada besi, hingga atraksi ekstrem memakan pecahan kaca (beling).

Sontak, tepuk tangan dan sorak-sorai penonton pecah. Tidak sedikit warga yang menutup mata karena takut, namun juga tidak bisa mengalihkan pandangan karena saking takjubnya.

Setelah itu, suasana berlanjut dengan demonstrasi pencak silat yang melibatkan PJBN, Maung Lugay, dan Pusaka Santri. Gerakan jurus yang cepat, olah nafas, dan formasi tim yang kompak semakin memeriahkan suasana. Bahkan, anak-anak kecil di barisan depan terlihat antusias menirukan gerakan para pendekar.

Hadirnya seni tradisi dalam pernikahan mendapat apresiasi tinggi dari warga setempat. Ketua RT setempat, Pak Pudin, mengaku senang melihat warganya menggelar hajatan dengan nuansa budaya.

“Jarang sekarang ada nikahan pakai debus dan silat. Ini bagus, biar anak muda tahu kalau budaya kita itu keren, bukan cuma dangdut aja. Makasih buat para pendekar yang sudah menghibur warga,” ujar Pak Pudin, Rabu (3/6/2026).

Hal senada disampaikan Ibu Nani, salah satu warga yang hadir. Ia terlihat sibuk merekam momen tersebut melalui ponselnya.

“Merinding lihat debusnya. Dulu waktu saya kecil sering lihat, sekarang udah jarang. Senang bisa lihat lagi pas nikahan tetangga,” katanya.

Hadir pula A Bonet, seorang tokoh penerus generasi seni budaya, yang memberikan dukungan moral dan pengarahan kepada para santri seni. Ia berharap acara seperti ini dapat memicu semangat para pemuda untuk lebih mendalami seni budaya Banten.

Para ketua padepokan juga menyampaikan visi mereka. Ketua PJBN Lebak menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah pelestarian, bukan pamer kesaktian.

“Kami siap kapan saja diundang buat nguri-nguri (melestarikan) budaya Banten. Debus dan silat bukan buat pamer, tapi buat nunjukin bahwa warisan leluhur masih kuat di Lebak,” tegasnya.

Sementara Ketua Padepokan Maung Lugay menambahkan, “Lewat acara seperti ini, anak-anak muda bisa tertarik belajar silat. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?”

Bagi keluarga mempelai, memasukkan unsur budaya Banten bukan sekadar hiburan, melainkan memiliki makna filosofis. Perwakilan keluarga menyatakan bahwa kehadiran para pendekar adalah bentuk doa simbolis.

“Lebih berkesan dan jadi doa juga buat pengantin, semoga rumah tangganya sekuat para pendekar,” ungkapnya.

Meski tren pernikahan modern kian marak, langkah keluarga di Lebak ini membuktikan bahwa tradisi debus dan pencak silat masih punya tempat istimewa di hati masyarakat. Melalui kolaborasi dan dukungan komunitas, budaya Banten terus hidup dan relevan di tengah generasi muda.

 

Related posts