Oleh: Sayid Iskandarsyah
Matamedianews.co.id,- Saat ini, kondisi media sedang tidak baik-baik saja, disrupsi media dan kehadiran kecerdasan artifisial yang menghadirkan efisiensi baik dari segi produksi, mengurasi, serta distribusi informasi. Hal ini mengubah ekosistem persaingan media menjadi sangat tidak sehat, dari algoritma media sosial yang tidak menentu hingga krisis kepercayaan publik.
Dalam kondisi seperti ini, di tengah badai perubahan , keberadaan Pers Mahasiswa menjadi soratan, apakah Pers Mahasiswa ikut tergerus arus digitalisasi, atau justru menjadi lompatan kebangkitan jurnalisme yang hakiki?
*Pers Mahasiswa adalah Penyampaian Pendapat Independen*
Persma mempunya marwah yang berbeda dari media arus utama. Jika media komersial sering kali tersandera oleh kepentingan pemodal, klickbait serta traffic iklan, Persma lahir dari gagasan yang idealisme.
Ruang redaksi menjadi tempat mahasiswa mengasah nalar dengan menyajikan tulisan yang kritis sesuai keadaan. Keberanian mengungkap fakta kebenaran, dan keberpihakan kepada kaum marginal tertindas disajikan tanpa beban transaksional.
Namun, idealisme saja tidak lagi cukup, untuk mempertahankan keberadaan Persma di era algoritma menjadi tantangan besar. Hal ini bukan sekadar menyediakan waktu dan biaya, melainkan bagaimana beradaptasi di era AI.
Kecerdasan Artifisial
Sekarang ini AI banyak dimanfaatkan oleh siapa saja, dalam hitungan detik AI membantu membuat artikel tulisan, menyebarkan berita bohong, serta digunakan oleh buzzer. Ancaman nyatanya Adalah banjir informasi dan kadang menghilangkan fakta kebenaran.
Jika Persma hanya mengandalkan mekanisme redaksi yang konvensional pasti akan tertinggal baik dari segi kecepatan maupun kecanggihan.
Perma harus memanfaatkan AI sebagai alat bantu yang efektif dan efisien serta bertransformasi dengan mengadopsi literasi digital dan teknologi.
Penggunaan AI bermanfaat untuk melakukan analisis data, baik untuk liputan indepth , investigatif, memetakan disinformasi, serta memperluas jangkauan distribusi konten agar relevan dengan generasi muda.
Patut diingat, teknologi tidak memiliki nurani. Keunggulan pers mahasiswa yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh ChatGPT atau algoritma secanggih apa pun, karena mahasiswa dalam membuat berita dilandasi, empati, kepekaan sosial, keberanian dan untuk kepentingan masyarakat.
Kembali Ke Khitah
Persma harus kembali pada khitahnya sebagai penjaga kebenaran berita dengan melakukan verifikasi ,menerapkan kaidah jurnalistik di tingkat kampus maupun masyarakat luas.
Era konvergensi media, peran algoritma media sosial kadang menjadi magnet emosi publik melalui polarisasi dan berita instan. Persma harus bisa menjawab dengan karya jurnalistik yang kontekstual, reflektif, danl humanis sesuai dengan kaidah jurnalistik.
Persma harus bisa menjawab dengan isu-isu keberpihakan kepada masyarakat, isu-isu marginal, kebijakan kampus yang represif, serta krisis lingkungan lokal, nasional dan dunia. Selain itu, tantangan disrupsi media menuntut kolaborasi dengan berbagai antar kampus lainnya.
*Hilangkan Ego*
Ego sektorall antar-universitas kadang jadi penghalang, Persma harus mempunyai visi dan ambil peran dalam kancah pers Indonesia dengan cara membangun jejaring dan solidaritas secara nasional.
Persma harus dapat beradaptasi dengan teknologi dengan berpegang pada kaidah dan kode etik jurnalistik. Membangun solidaritas dengan pengauatan ide dan gagasan, melakukan pelatihan bersama yang bertujuan untuk membangun soliditas untuk menghadapi gelombang perubahan.
Pada akhirnya, era AI dan disrupsi media bukanlah lonceng kematian bagi pers mahasiswa, melainkan tantangan.Kampus tidak boleh hanya sekedar tempat mencetak sarjana untuk pekerja industri, melainkan kawah candradimuka bagi warga negara yang kritis.
Selama integritas serta nurani mahasiswa terpelihara di ruang-ruang redaksi Persma, maka Pers kampus akan selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan, menolak bungkam, dan terus merawat kewarasan publik.


