CILEGON,- Matamedianews.co.id,- Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kelurahan Kubangsari dan Pemerintah Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon menggelar simulasi menghadapi bencana alam gempa bumi yang berpotensi tsunami. Kegiatan dilakukan di sekitar Kantor Kelurahan Kubangsari pada Selasa, 13 Oktober 2026 pagi.
Simulasi dimulai dengan adanya suara sirine gempa bumi yang berpotensi tsunami. Saat bunyi sirine meraung, warga yang sedang beraktivitas di rumah dan pelataran rumah berhamburan menuju ke tanah kosong samping Kantor Kelurahan Kubangsari. Puluhan warga berhamburan ke area terbuka yang juga disediakan tenda darurat di sekitar Kantor Kelurahan Kubangsari.
Di tenda darurat itu, warga juga diberikan pengetahuan tentang bahaya bencana alam serta tata cara menyelamatkan diri. Selain warga dan aparatur Kelurahan Kubangsari, juga diikuti oleh FPRB Kelurahan Kubangsari, perwakilan BPBD Provinsi Banten, BPBD Kota Cilegon, serta Forkopincam Ciwandan.
Camat Ciwandan Agus Ariyadi mengatakan, FPRB Kelurahan Kubangsari dan Pemerintah Kecamatan Ciwandan, khususnya Kelurahan Kubangsari melakukan simulasi menghadapi bencana alam gempa bumi yang berpotensi tsunami. “Kita simulasi dengan meeting point di tenda samping Kelurahan Kubangsari,” kata Agus.
Pada momen itu, juga disimulasikan penanganan luka-luka warga yang terbentur berbagai benda saat proses penyelamatan diri, dan juga adanya ibu hamil yang hendak melahirkan. “Kita juga menghadirkan psikolog yang menenangkan masyarakat dalam simulasi ini,” terangnya.
Agus berharap, di Kota Cilegon tidak ada bencana, namun kesiapsiagaan tetap harus dilakukan. “Tujuannya agar masyarakat tanggap terhadap bencana dan menyadari bahwa di Cilegon ini, khususnya Ciwandan merupakan daerah yang rawan akan bencana. Sehingga, perlu adanya simulasi agar masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan saat kondisi tertentu seperti bencana. Kita berdoa mudah-mudahan ini hanya simulasi saja dan tidak ada bencana,” harapnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Kubangsari Badiah mengatakan, saat ini adalah bulan Penanggulangan Risiko Bencana, sehingga dilakukan simulasi bencana. Selain itu, juga pemerintah juga melakukan aktivasi sirine bencana tsunami. “Simulasinya selain lari saat adanya gempa bumi potensi tsunami, kemudian alur penyelamatan dijelaskan ke masyarakat,” terangnya.
Ia menambahkan, simulasi diikuti sekitar 100 warga. “Jadi kita bukan hanya lari saja, tetapi simulasinya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan rangkaian kegiatan difokuskan untuk meminimalisasi jatuhnya korban jika terjadi bencana,” tutupnya.*


