Tangerang,- Matamedianews.co.id,- Dalam rangka menyambut Malam 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Jatiuwung menggelar kegiatan tradisi tahunan yang berlangsung di Lapangan Futsal Sekolahan Yayasan Nurul Kuncung (SMK YAPINKTEK) Kel.Keroncong,kec Jatiuwung, Kota Tangerang, pada Senin (15/6/2026) mulai pukul 20.00 WIB~03.00 WIB.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 600 warga PSHT dan para siswa se-Ranting Jatiuwung yang mengikuti rangkaian acara dengan penuh khidmat dan semangat persaudaraan. Suasana kebersamaan begitu terasa sejak awal kegiatan, di mana seluruh peserta berkumpul untuk memperingati malam yang memiliki makna penting dalam tradisi PSHT sekaligus menjadi momentum refleksi diri.
Ketua Panitia pelaksana kangmas Sodik Pranoto sekaligus Ketua I PSHT Ranting Jatiuwung menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik berupa tenaga, pikiran, maupun donasi sehingga kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Apresiasi juga diberikan kepada masyarakat sekitar yang turut membantu dan menjaga suasana tetap aman serta kondusif selama acara berlangsung.
Dalam sambutannya, salah satu pendiri PSHT Ranting Jatiuwung sekaligus perintis berdirinya Cabang Kota Tangerang dan Penasehat Cabang PSHT Jatiuwung, Kang Mas Amir Budi Laksono, menyampaikan sekapur sirih yang sarat dengan pesan moral dan nilai-nilai keilmuan Setia Hati.
Ia mengingatkan seluruh warga PSHT Ranting Jatiuwung agar tidak pernah berhenti belajar dan mendalami ilmu Setia Hati secara utuh, baik dari sisi pencak silat maupun nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, peringatan Malam 1 Suro bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana untuk mengenal jati diri, memperbaiki akhlak, memperkuat persaudaraan, serta semakin mendekatkan diri kepada Sang Maha Esa.
“Ilmu Setia Hati mengajarkan manusia untuk mengenal dirinya sendiri sebelum mengenal orang lain. Dengan memahami diri, seseorang akan mampu menjaga sikap, menghormati sesama, dan selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa,” pesannya di hadapan ratusan peserta.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi bentuk pelestarian tradisi para leluhur yang selama ini diwariskan secara turun-temurun di lingkungan PSHT. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, disiplin, dan rasa hormat kepada sesepuh terus ditanamkan kepada generasi muda agar tetap menjadi bagian dari karakter warga PSHT.
PSHT = Persaudaraan Setia Hati Terate. Organisasi pencak silat yang berpusat di Madiun.
Di malam 1 Suro, PSHT biasanya mengadakan:
– *Kirab Malam 1 Suro*: Arak-arakan warga PSHT dari berbagai cabang menuju Padepokan Pusat Madiun. Ini jadi agenda tahunan terbesar.
– *Tirakat dan renungan*: Warga PSHT melakukan puasa, tapa, dan perenungan sesuai ajaran Setia Hati. Tujuannya menguatkan mental, budi pekerti, dan spiritualitas.
– *Upacara tradisi*: Pembacaan sejarah PSHT, doa bersama, dan penghormatan ke pendiri Ki Hadjar Hardjo Oetomo.
Tujuannya sama dengan makna 1 Suro secara umum: instrospeksi diri, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan nilai-nilai luhur Setia Hati: _“Memayu Hayuning Bawono”_ – memperindah keindahan dunia.
Tradisi ini biasanya diikuti ribuan warga PSHT dari seluruh Indonesia dan luar negeri, dan sering dapat pengawalan dari kepolisian biar tertib.
Jadi singkatnya: Malam 1 Suro itu Tahun Baru Jawa yang sakral untuk refleksi. PSHT memaknainya dengan tirakat dan kirab besar ke Madiun sebagai bagian dari pengamalan ajaran Setia Hati.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh kekeluargaan. Para peserta mengikuti setiap prosesi dengan khusyuk sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan di antara warga dan siswa PSHT Ranting Jatiuwung.
Melalui peringatan Malam 1 Suro ini, diharapkan seluruh warga PSHT semakin memahami makna sejati ajaran Setia Hati, yaitu membentuk pribadi yang berbudi luhur, rendah hati, berjiwa ksatria, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara dengan tetap menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
(Red Yusuf)






