CILEGON,- Matamedianews.co.id,- Menjelang peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat, *16 Januari 2026*, umat Islam kembali diajak untuk merenungi peristiwa agung yang sarat makna spiritual, keteladanan, dan nilai perjuangan. Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan luar biasa Rasulullah SAW, melainkan tonggak penguatan iman, khususnya melalui perintah shalat sebagai fondasi utama kehidupan seorang muslim.
Momentum sakral ini menjadi refleksi mendalam bagi *drg. Rully Kusumawardhany, MM*, sosok wanita muslimah sekaligus ibu, yang memandang Isra Mi’raj sebagai pengingat peran strategis perempuan dalam menjaga iman, keluarga, dan peradaban umat.
“Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa ketinggian iman tidak diukur dari jabatan atau posisi sosial, melainkan dari seberapa dekat kita dengan Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan,” ungkapnya.
Menurut drg. Rully, sejarah Islam mencatat bahwa sejak masa Rasulullah SAW, perempuan muslimah memiliki peran penting dalam menopang dakwah dan menjaga nilai keimanan. Sosok *Siti Khadijah RA*, istri pertama Rasulullah SAW, menjadi teladan utama sebagai wanita beriman, ibu, dan pendukung dakwah yang mengorbankan harta, tenaga, serta keteguhan hati demi tegaknya Islam.
“Khadijah RA adalah gambaran nyata bagaimana kekuatan iman seorang wanita mampu menopang perjuangan besar. Ia bukan hanya istri, tetapi juga sahabat, penenang, dan sumber kekuatan Rasulullah SAW,” jelasnya.
Selain Khadijah RA, sejarah juga mencatat keteladanan *Siti Aisyah RA* yang dikenal sebagai perempuan cerdas, periwayat hadis, dan rujukan ilmu umat Islam, serta **Siti Fatimah Az-Zahra RA**, putri Rasulullah SAW, yang menjadi simbol kesederhanaan, keteguhan iman, dan bakti seorang anak sekaligus ibu.
“Para wanita di masa Rasulullah SAW menunjukkan bahwa peran ibu bukanlah peran kecil. Dari rahim dan didikan merekalah lahir generasi berakhlak, berilmu, dan berani menjaga kebenaran,” tambah drg. Rully.
Dalam konteks Isra Mi’raj, ia menekankan bahwa perintah shalat yang diterima langsung oleh Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha menjadi amanah besar yang harus dijaga, terutama di lingkungan keluarga. Sebagai ibu, perempuan memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai shalat, kesabaran, dan akhlak mulia kepada anak-anak sejak usia dini.
“Rumah adalah madrasah pertama. Ketika seorang ibu menjaga shalatnya, lisannya, dan akhlaknya, maka ia sedang menanamkan nilai Isra Mi’raj dalam kehidupan nyata,” tuturnya.
Di tengah tantangan zaman modern, arus informasi, dan dinamika sosial yang semakin kompleks, drg. Rully mengajak umat Islam—khususnya kaum perempuan—untuk meneladani kekuatan iman wanita muslimah di masa Rasulullah SAW, menjadikan Isra Mi’raj sebagai titik balik memperbaiki diri, memperkuat shalat, dan membangun keluarga yang berlandaskan nilai ketauhidan.
“Sebagai wanita dan ibu, kita memikul amanah besar. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa kekuatan umat dimulai dari kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT, dan dari rumah-rumah yang dipenuhi doa serta keteladanan,” pungkasnya.
Peringatan Isra Mi’raj 1447 Hijriah diharapkan tidak berhenti pada seremonial semata, tetapi menjadi momentum kebangkitan spiritual, penguatan peran keluarga, serta peneguhan kembali nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan Rasulullah SAW dan para wanita mulia di sekitarnya.
Redaksi.






