Anggaran Miliaran, Kualitas Diragukan: Proyek RSUD Cilegon Disorot LSM Japati, Ini Penjelasan CV. WJS 

Cilegon,- Matamedianews.co.id,- Proyek pembangunan ruang racik obat di RSUD Kota Cilegon kembali menjadi sorotan. Kali ini, dugaan pengabaian terhadap kualitas spesifikasi material mencuat ke permukaan. Investigasi lapangan mengungkap adanya kejanggalan pada pemasangan atap ruangan yang dinilai tidak sesuai dengan standar teknis.

Ketua Jaringan Pemuda Banten Anti Korupsi (Japati), Ari Dumung, mengungkapkan temuannya terkait pemasangan kaso atau truss yang tidak sesuai ukuran spesifikasi dalam proyek tersebut.

Read More

“Kami melakukan investigasi di lapangan, dan kami temukan kanal yang di gunakan untuk kuda kuda atap yang berukuran hanya 0,67 mm serta pemasangannya yang tidak sesuai dengan spesifikasi ukuran jarak yang semestinya,” ujar Ari kepada wartawan.

Ari menilai hal ini sebagai bentuk kelalaian serius dan mendesak aparat penegak hukum (APH) untuk segera turun tangan.

“Kami minta kepada APH segera panggil pihak pelaksana dan konsultannya. Jangan sampai uang negara digelontorkan tapi mutu pekerjaan justru dikorbankan,” tegasnya.

Proyek pembangunan ruang racik obat di RSUD Kota Cilegon diketahui berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan nilai anggaran sebesar Rp 1.368.170.977,44. Proyek ini dilaksanakan oleh CV. Wahyu Jaya Selamet dengan pengawasan dari PT. Aksara Sakti Hutama sebagai konsultan.

Kontraktor Proyek Ruang Racik Obat RSUD Cilegon Bantah Dugaan Penggunaan Material Tak Sesuai Spesifikasi

Menanggapi hal tersebut Kontraktor pelaksana proyek pembangunan Ruang Racik Obat di RSUD Kota Cilegon, CV Wahyu Jaya Selamet, membantah keras tudingan salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menyebut bahwa material yang digunakan dalam proyek tersebut diduga tidak sesuai spesifikasi.

Perwakilan tim engineering CV Wahyu Jaya Selamet, Gangan, menjelaskan bahwa pengukuran yang dilakukan oleh pihak LSM dinilai tidak akurat karena hanya menggunakan alat ukur digital sigmat seadanya.

“Galvalum yang mereka ukur itu memang material anti karat. Hasil ukur mereka menyebutkan ketebalan 0,67 mm. Padahal, alat yang mereka gunakan memerlukan ketelitian dan fokus tinggi. Apalagi jika kondisi alat sudah tidak layak atau tidak terawat, maka tingkat keakurasiannya diragukan,” ujar Gangan, Kamis (28/8/2025).

Gangan menyebut pihaknya telah melakukan pengecekan ulang menggunakan sigmat analog dengan tingkat akurasi 0,02 mm. Hasilnya, ketebalan galvalum tersebut mencapai 0,86 mm jauh di atas hasil pengukuran versi LSM.

“Kita hargai peran LSM sebagai kontrol sosial. Tapi kita ajak duduk bersama, ukur bareng pakai alat yang baru dan layak, disaksikan konsultan dan pihak RSUD, agar hasilnya objektif,” tambahnya.

Menanggapi tudingan lain terkait jarak antar kuda-kuda yang disebut tidak sesuai gambar, CV Wahyu Jaya Selamet juga memberikan klarifikasi. Menurut Gangan, pengukuran yang dilakukan LSM tidak sesuai prosedur karena hanya dilakukan dari bawah tanpa menggunakan scaffolding atau alat bantu yang memadai.

“Kami pasang kuda-kuda sesuai gambar, dengan jarak standar 1 meter. Tapi di beberapa titik memang disetting 0,9 meter untuk menyesuaikan dengan struktur bangunan, demi memperkuat konstruksi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penyesuaian tersebut tidak mengurangi kekuatan struktur, justru membuatnya lebih kokoh dibanding desain awal.

Terkait pertanyaan LSM soal keikutsertaan pekerja dalam program BPJS Ketenagakerjaan, pihak CV Wahyu Jaya Selamet memastikan semua pekerjanya telah didaftarkan dan dilindungi oleh program tersebut.

“Silakan dicek langsung ke pekerja atau mandor kami. Semuanya sudah punya BPJS Ketenagakerjaan. Tanpa itu, kami tidak bisa mulai pekerjaan. Perlu diketahui, proyek ini juga diawasi oleh konsultan dan pihak dinas,” tegas Gangan.

Related posts