Anak-Anak SDN HTI Kreung Tuan Belajar Tanpa WC dan Air Bersih, Lantai Kelas Masih Bertanah, Program MBG Belum Juga Tiba

Aceh Timur — Di balik semangat belajar anak-anak di pelosok Kabupaten Aceh Timur, tersimpan kenyataan yang memprihatinkan. SDN HTI Kreung Tuan hingga Sabtu (14/2/2026) masih belum memiliki fasilitas WC dan sarana air bersih yang layak. Lebih ironis lagi, sebagian lantai ruang kelas di sekolah tersebut dilaporkan masih berupa tanah, belum disemen maupun dipasangi keramik.

Kondisi ini tentu jauh dari standar kelayakan sebuah sekolah negeri. Setiap hari, siswa terpaksa keluar dari lingkungan sekolah untuk menumpang ke rumah warga saat ingin buang air kecil maupun mencuci tangan.

“Anak-anak harus izin keluar sekolah kalau mau ke toilet. Kadang mereka antre di rumah warga. Ini sangat tidak layak untuk ukuran sekolah negeri,” ujar warga berinisial N.

Selain persoalan sanitasi, kondisi fisik ruang belajar juga menjadi sorotan. Beberapa lantai lokal kelas disebut masih tanah, sehingga saat musim hujan menjadi becek dan berdebu saat cuaca kering. Situasi ini dikhawatirkan mengganggu kenyamanan dan kesehatan siswa.

Kepala SDN HTI Kreung Tuan, Hamidi, S.Pd, membenarkan keterbatasan fasilitas tersebut. Ia mengaku pihak sekolah selama ini hanya bisa berupaya semaksimal mungkin dengan kondisi yang ada.

“Kami sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah, baik terkait pembangunan fasilitas WC, air bersih, maupun perbaikan lantai kelas yang masih tanah. Ini kebutuhan dasar untuk proses belajar yang layak,” ujarnya.

Tak hanya itu, sekolah ini juga belum tersentuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini digaungkan pemerintah sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi peserta didik.

“Kami juga sangat berharap program MBG bisa segera hadir di sekolah kami. Anak-anak sangat membutuhkan asupan gizi yang baik untuk mendukung proses belajar mereka. Selama ini kami hanya mendengar program itu berjalan di tempat lain,” tambah Hamidi.

Ia menegaskan bahwa kondisi sekolah yang berada di wilayah terpencil seharusnya menjadi alasan untuk mendapatkan prioritas perhatian.
“Justru karena kami di pelosok, perhatian itu sangat kami harapkan. Anak-anak di sini punya hak yang sama dengan siswa di kota,” tegasnya.

Masyarakat berinisial N dan H mendesak Dinas Pendidikan serta instansi terkait di Kabupaten Aceh Timur untuk segera turun langsung melihat kondisi sekolah tersebut. Mereka berharap ada langkah konkret, bukan sekadar wacana.

Bagi warga, pendidikan yang layak tidak harus dimulai dari bangunan megah, tetapi dari terpenuhinya kebutuhan paling mendasar: ruang belajar yang layak, sanitasi yang sehat, serta asupan gizi yang cukup bagi anak-anak.

Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi. Redaksi masih menunggu klarifikasi sebagai bentuk keberimbangan informasi.(Mh)

Related posts