Surabaya,- Matamedianews.co.id,- Di tengah semakin jauhnya ruang-ruang intelektual mahasiswa dari denyut kehidupan masyarakat, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya Komisariat Sosial Budaya Universitas Negeri Surabaya kembali menegaskan arah gerak pengabdiannya melalui kegiatan “Sosialisasi Penyembelihan Hewan Qurban 2026” yang dilaksanakan di Masjid Baitul Haq Ketintang Permai, Surabaya, Jumat (22/05/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi HMI untuk memperkuat kembali hubungan antara mahasiswa, masjid, dan masyarakat dalam semangat dakwah serta pengabdian sosial-keagamaan.
Mengusung tema “Mewujudkan Penyembelihan Hewan Qurban yang Halal dan Sesuai Syariat Islam”, kegiatan tersebut dihadiri oleh masyarakat umum, jamaah masjid, mahasiswa, serta kader HMI yang antusias mengikuti kajian fiqih qurban dan praktik pemahaman penyembelihan halal sesuai syariat Islam. Kegiatan ini bukan sekadar forum kajian keagamaan biasa. Lebih dari itu, sosialisasi tersebut menjadi simbol gerakan HMI untuk kembali hadir di tengah masyarakat melalui masjid sebagai pusat peradaban dan ruang pembelajaran umat. HMI Komisariat Sosial Budaya Unesa menilai bahwa mahasiswa tidak boleh terjebak hanya dalam aktivitas akademik dan diskusi elit kampus, tetapi harus mampu turun langsung menjawab kebutuhan masyarakat melalui gerakan pengabdian nyata.
Ketua Umum HMI Komisariat Sosial Budaya Unesa, Arsyad Habibillah, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar besar HMI untuk menghidupkan kembali fungsi sosial masjid sekaligus membangun kedekatan emosional antara kader mahasiswa dengan masyarakat akar rumput. “HMI lahir dari rahim umat dan dibesarkan oleh denyut perjuangan masyarakat. Maka sudah seharusnya HMI kembali ke masyarakat, kembali ke masjid, dan kembali hadir sebagai pelayan umat. Hari ini kita tidak hanya bicara soal tata cara penyembelihan hewan qurban, tetapi juga sedang membangun kembali tradisi intelektual dan spiritual di lingkungan masjid,” ujar Arsyad Habibillah.
Menurutnya, saat ini masjid harus kembali dihidupkan bukan hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pendidikan sosial, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ia menyebut bahwa gerakan mahasiswa Islam harus mampu menjadikan masjid sebagai ruang konsolidasi umat dan tempat tumbuhnya kesadaran sosial-keagamaan. “HMI ingin menunjukkan bahwa masjid bukan ruang yang sepi dari anak muda. Justru masjid harus menjadi tempat bertemunya gagasan, pengabdian, dan perjuangan sosial. Karena dari masjid lahir peradaban, lahir solidaritas, dan lahir kepedulian terhadap umat,” tambahnya.
Semangat tersebut terlihat dari tingginya partisipasi jamaah Masjid Baitul Haq yang hadir sebagai peserta kajian fiqih qurban. Para jamaah mengikuti kegiatan dengan penuh antusias mulai dari sesi pemaparan materi kajian fiqih qurban hingga sesi terkait tata cara penyembelihan halal yang benar dan sesuai syariat Islam. Kehadiran masyarakat menjadi bukti bahwa ruang-ruang edukasi berbasis masjid masih sangat dibutuhkan dan memiliki daya tarik besar di tengah masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, HMI Komisariat Sosial Budaya Unesa turut berkolaborasi dengan Dewan Pimpinan Wilayah Juru Sembelih Halal (DPW Juleha) Jawa Timur sebagai mitra edukasi kehalalan dan penyembelihan syar’i. Ketua DPW Juleha Jawa Timur, Ustadz Imam Fauzi, hadir sebagai pembicara utama sekaligus memberikan edukasi langsung mengenai teknik penyembelihan halal yang baik, benar, higienis, dan sesuai tuntunan Islam. Dalam materinya, Ustadz Imam Fauzi menjelaskan bahwa penyembelihan hewan qurban tidak hanya berkaitan dengan aspek ibadah, tetapi juga menyangkut persoalan etika, kebersihan, kesehatan, dan standar kehalalan yang harus dijaga secara serius oleh masyarakat.
“Banyak masyarakat yang memahami qurban hanya sebatas memotong hewan, padahal dalam Islam ada tata cara yang harus diperhatikan mulai dari kondisi hewan, alat penyembelihan, cara memotong, hingga distribusi dagingnya. Semua itu bagian dari syariat dan bentuk penghormatan terhadap ibadah qurban,” jelasnya. Materi sosialisasi sendiri meliputi pengertian dan hikmah ibadah qurban, kriteria hewan qurban sesuai syariat, tata cara penyembelihan halal, hingga proses penanganan dan distribusi daging qurban yang baik dan sehat bagi masyarakat.
Selain menjadi sarana edukasi keagamaan, kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana organisasi mahasiswa dapat hadir sebagai jembatan antara dunia intelektual kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat. HMI Komisariat Sosial Budaya Unesa mencoba menghadirkan wajah gerakan mahasiswa yang tidak eksklusif, tetapi membumi dan dekat dengan kehidupan sosial masyarakat.
Bagi HMI Sosbud Unesa, pengabdian kepada masyarakat tidak cukup dilakukan melalui wacana dan seminar akademik semata. Pengabdian harus diwujudkan melalui aksi nyata yang mampu menyentuh langsung kebutuhan umat, termasuk dalam membangun pemahaman keislaman yang benar dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, HMI berharap tradisi kajian di masjid dapat terus hidup dan berkembang, sekaligus memperkuat kembali semangat kolektif mahasiswa untuk menjadikan masjid sebagai pusat gerakan intelektual, spiritual, dan sosial masyarakat.






