Aceh Timur — Potret buram dunia pendidikan kembali terlihat di pelosok Kabupaten Aceh Timur. SMP Negeri 7 Rantau Peureulak hingga kini dilaporkan belum memiliki fasilitas WC dan sarana air bersih yang layak. Lebih memprihatinkan lagi, sekolah tersebut juga belum tersentuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini digaungkan pemerintah.
Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari masyarakat dan pihak sekolah. Para siswa disebut terpaksa keluar dari lingkungan sekolah untuk menumpang ke rumah warga setiap kali ingin buang air kecil maupun mencuci tangan.
“Kalau anak-anak sakit perut, mereka harus lari ke rumah warga. Mau cuci tangan saja harus keluar sekolah. Ini sangat memprihatinkan,” ujar warga berinisial N kepada media ini, Jumat (13/2/2026).
Warga menilai, persoalan tersebut bukan hal baru. Minimnya fasilitas sanitasi dasar di sekolah negeri itu disebut sudah berlangsung cukup lama tanpa solusi konkret dari pihak terkait.
“Bagaimana mau bicara soal prestasi dan kualitas pendidikan kalau WC saja tidak ada? Ini kebutuhan paling mendasar. Jangan sampai anak-anak pedalaman terus dianaktirikan,” tegas warga lainnya.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 7 Rantau Peureulak, Fitriani, S.Pd.I, secara terbuka menyampaikan harapan dan keluhannya terkait belum tersalurnya program Makan Bergizi Gratis di sekolah yang ia pimpin.
“Untuk MBG, kami dari pihak SMPN 7 Ranto Peureulak memohon perhatian dari pihak terkait tentang penyediaan makanan bergizi gratis untuk anak didik kami yang memang sangat dibutuhkan. Selama ini anak-anak kami hanya mendengar bahwa ada MBG, tetapi kenapa sekolah kami belum mendapatkannya?” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Ia mempertanyakan apakah letak sekolah yang berada di pelosok menjadi alasan sehingga belum tersentuh program tersebut.
“Apakah karena sekolah kami jauh di pelosok kampung sehingga tidak terjangkau? Itulah pertanyaan yang timbul dari anak-anak didik kami dan juga dari guru-guru kami. Kemanakah kami harus mengadu? Selama ini kami hanya bisa menunggu,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Pernyataan tersebut menjadi tamparan keras bagi komitmen pemerataan pembangunan pendidikan di Aceh Timur. Di saat program-program peningkatan kualitas pendidikan terus disosialisasikan, fakta di lapangan menunjukkan masih adanya sekolah negeri yang belum mendapatkan fasilitas sanitasi dasar dan asupan gizi yang layak bagi siswanya.
Masyarakat mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur serta instansi terkait lainnya untuk segera turun langsung ke lokasi dan mengambil langkah konkret. Mereka menegaskan, persoalan WC, air bersih, dan makanan bergizi bukanlah proyek mewah, melainkan hak dasar anak-anak bangsa.
“Ini bukan soal pembangunan besar. Ini soal kebutuhan paling dasar. Kalau hal mendasar seperti ini saja belum mampu dipenuhi, bagaimana masa depan generasi kami?” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur belum memberikan keterangan resmi. Redaksi telah berupaya melakukan konfirmasi dan akan memuat tanggapan apabila telah diterima sebagai bentuk keberimbangan informasi(Mh)






